Rabu, 07 Oktober 2020

Kata Kata Hikmah menyentuh hati

 Kata Kata Hikmah menyentuh hati

 

Kata-kata hikmah yang sangat menyentuh hati, karena semuanya ada dalam diri kita. Kata-kata hikmah itu adalah ;

1. Selamatnya jasad kita adalah karena menyedikitkan makan

2. Selamatnya ruh kita adalah karena menyedikitkan dosa

3. Selamatnya agama kita karena banyaknya sholawat kepada Rasulullah saw.

TIRAKAT PERWIMANAS




TIRAKAT PERWIMANAS

Tulisan ini berangkat dari kondisi sebuah panitia penyelenggara sebuah event besar yang pernah penulis alami, tidak terkecuali dengan panitia penyelenggara Perkemahan Wirakarya Ma’arif Nahdlatul Ulama yang segera akan di helat di bumi santri Jombang Jawa Timur.
Sebuah panitia penyelenggara event besar pasti sudah melakukan rapat yang dikemas dengan istilah rapat teknis, rakornis dan rapat-rapat yang lain. Pada intinya setiap rapat yang deselenggarakan bertujuan supaya pelaksanaan kegiatan yang akan dilaksanakan berjalan baik, lancar tidak terjadi gangguan-gangguan sekecil apapun. Antisipasi kemungkinan gangguan terkecil dalam bentuk apapun harus sudah terdeteksi sejak dini sehingga bisa mempersiapkan berbagai alternatif pencegahan dan penanggulangannya.
Kita sampaikan, dalam  beberapa hari lagi tepatnya tanggal 24 - 29 Juni 2013 Pengurus Pusat Lembaga Pendidikan Ma’arif NU akan menyelenggarakan Perkemahan Wirakarya Pramuka Ma’arif Nahdlatul Ulama Nasional yang diikuti penegak dari gugus depan Madrasah/Sekolah Ma’arif dari seluruh Indonesia. Pertemuan Penegak Pramuka Ma’arif NU yang pertama inilah yang menjadi taruhan bagi Pengurus Pusat Lembaga Pendidikan Ma’arif NU dalam komitmennya ikut membentuk generasi emas yang berkarakter melalui kegiatan kepramukaan. Sekaligus menjadi tonggak sejarah bagi kegiatan kepramukaan Madrasah/Sekolah di bawah naungan Lembaga Pendidikan Ma’arif NU di waktu-waktu yang akan datang. Sukses Perkemahan Wirakarya Pramuka Ma’arif Nahdlatul Ulama Nasional (Perwimanas) yang akan segera dilaksanakan ini akan membawa perubahan yang sangat dahsyat terhadap kehidupan kepramukaan di semua tingkatan Madrasah/Sekolah yang ada dibawah naungan Lembaga Pendidikan Ma’arif NU di masa mendatang.
Tanggung jawab untuk mensukseskan Perwimanas itu sangat terlihat pada saat Rakernis yang digelar berkali-kali, baik di Tingkat Pengurus Cabang, Pengurus Wilayah maupun di Pengurus Pusat, baik secara terpisah maupun gabungan. Dan tidak kalah pentingnya adalah omong-omong tidak resmi di tempat seadanya, menghasilkan keputusan yang signifikan bagi kesuksesan Perwimanas. Pada setiap rakernis itulah berbagai rencana kerja, usulan dan berbagai pertanyaan maupun solusi yang ingin disampaikan untuk menjadikan Perwimanas sukses.
Seperti pada saat rakernis gabungan antara PC, PW, PP yang dilaksanakan pada tanggal 9 Juni 2013 kemarin dihadiri banyak pihak diluar Pengurus Ma’arif NU, antara lain Pak Camat, Pak Danrem, Satlantas Polres Jombang, Kwarcab, Banser, Petugas Puskesmas dan banyak lagi yang lainnya.
Berbagai arahan disampaikan dalam acara itu antara lain sebagaimana arahan yang disampaikan oleh Bapak Muhsin dari Pengurus Pusat LP. Ma’arif NU yang terkait dengan : ketersediaan air bersih untuk MCK, ketersediaan listrik yang cukup, kesehatan perserta tidak boleh terlupakan, keamanan peserta baik dari gangguan keamanan fisik maupun non fisik, baik dari dalam Buper maupun luar Buper. Tidak kalah pentingnya adalah arahan dari Satlantas Polres Jombang, agar dalam kegiatan Perwimanas ini jangan sampai terjadi kecelakaan sekecil apapun, misalnya ada peserta rafting yang tenggelam bahkan sampai meninggal, tentunya tidak kita inginkan bersama. Kalau ini sampai terjadi tentunya akan menjadi berita nasional yang tidak baik. Tolong direncanakan dengan sebaik-baiknya untuk menghindari kecelakaan-kecelakan, baik kecelakaan karena tidak sengaja maupun kecelakaan karena kelalaian petugas yang bertanggung jawab.
Perlu kita sadari bahwa pada setiap rapat-rapat akhir dari sebuah perencanaan event besar tentunya banyak pertanyaan dari panitia penyelenggara kepada panitia pelaksana, yang apabila tidak hati-hati dalam menyampaikannya bisa menimbulkan kesalahpahaman dan bahkan pertengkaran-pertengkaran kecil.
Seharusnya tidak ada larangan untuk menyampaikan pertanyaan-pertanyaan, akan tetapi seharusnya yang menyampaikan pertanyaan harus mengetahui kalau kondisi psikologi pantia pelaksana menjelang hari pelaksanaan event besar sudah sangat tinggi tensinya. Jangan diberi pertanyaan yang bisa menambah tensi psikologi panitia pelaksana semakin meninggi. Ingat !, hanya ada satu pertanyaan yang boleh di lontarkan dalam kondisi yang demikian yaitu; “ Kurang berapa dana yang dibutuhkan oleh panitia pelaksana ?”. Nah pertanyaan semacam itu belum terlontar sama sekali selama penulis mengikuti rapat maupun rakernis perwimanas.
Kepada semua panitia, mari kita satukan tekad untuk mensukseskan Perwimanas dengan menyedikitkan protes dan pertanyaan kepada Panitia Pelaksana, melainkan mari kita mencoba untuk Tirakat Perwimanas atau melakukan puasa, istighotsah, dan berziarah ke makam pendiri Nahdlatul Ulama untuk kemaslahatan dan kelancaran Perwimanas.


Manfaat Sholawat Yang Dahsyat sekali

 Terdapat keterangan dalam hadits dari Nabi Muhammad saw. sesungguhnya Allah swt. menciptakan malaikan yang besarnya digambarkan sebagai makhluk yang sangat besar, kepalanya ada di bawah arsy, sayap kanannya adi di ujung dunia timur dan sayak kirinya ada di ujung dunia barat dan kakinya ada di bawah bumi yang ketujuh. Jika ada orang yang bersholawat kepada Nabi Muhammad saw. malaikat tersebut disuruh Allah masuk kedalam laut kemudian muncul ke permukaan dan disuruh mengibaskan sayapnya. Dari percikan air sayap dan bulunya itu dijadikan Allah sebagai malaikat yang memintakan ampunan kepada orang yang membaca sholawat tai. Oleh karena itu marilah kita perbanyak membaca sholawat kepada Nabi Muhammad saw.


Jumat, 19 Agustus 2016

Pengajian Tafsir Yasin

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Ayat 1-12: Pernyataan dari Allah Subhaanahu wa Ta'aala bahwa Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam itu benar-benar seorang rasul, tugas Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam, peringatan hanya bermanfaat bagi orang yang takut kepada Allah, sikap kaum musyrik terhadap Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam dan pertolongan Allah kepada Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam.
- See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/03/tafsir-yasin-ayat-1-12.html#sthash.rjRsidEG.dpuf


Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Ayat 1-12: Pernyataan dari Allah Subhaanahu wa Ta'aala bahwa Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam itu benar-benar seorang rasul, tugas Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam, peringatan hanya bermanfaat bagi orang yang takut kepada Allah, sikap kaum musyrik terhadap Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam dan pertolongan Allah kepada Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam.

1. Yaa siin.
2. [1]Demi Al Quran yang penuh hikmah,
3. [2]Sungguh, engkau (Muhammad) adalah salah seorang dari rasul-rasul,
4. [3](yang berada) di atas jalan yang lurus,
5. [4] (sebagai wahyu) yang diturunkan oleh (Allah) Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang,
6. [5]Agar engkau memberi peringatan kepada suatu kaum yang nenek moyangnya belum pernah diberi peringatan[6], karena itu mereka lalai[7].
7. [8]Sungguh, pasti berlaku perkataan (hukuman) terhadap kebanyakan mereka, kerena mereka tidak beriman.
8. [9]Sungguh, Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, karena itu mereka tertengadah[10].
9. Dan Kami jadikan di hadapan mereka sekat (dinding) dan di belakang mereka juga sekat, dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat[11].
10. Dan sama saja bagi mereka, apakah engkau memberi peringatan kepada mereka atau engkau tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman juga[12].
11. Sesungguhnya engkau hanya memberi peringatan[13] kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan[14] dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pengasih walaupun mereka tidak melihat-Nya. [15]Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia (surga).
12. Sungguh, Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati[16], [17]dan Kamilah yang mencatat[18] apa yang telah mereka kerjakan[19] dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan[20]. Dan segala sesuatu[21] Kami kumpulkan dalam kitab yang jelas (Lauh Mahfuzh).

[1] Ini adalah sumpah Allah Subhaanahu wa Ta'aala dengan Al Qur’anul Karim, di mana sifatnya adalah hikmah (bijaksana) dan menempatkan sesuatu pada tempatnya, perintahnya tepat dan larangannya tepat, memberikan balasan pada tempatnya, hukum-hukum syar’i dan jaza’i(balasan)nya juga penuh dengan hikmah. Di antara kebijaksanaan Al Qur’an adalah menggabung antara menyebutkan hukum dengan hikmahnya, mengingatkan akal terhadap hal-hal yang sesuai dan sifat-sifat yang menghendaki untuk dihukumi.
[2] Ayat ini sebagai bantahan terhadap orang-orang kafir yang mengatakan kepada Beliau, “Engkau bukan seorang rasul.” Firman-Nya, “Sungguh, engkau (Muhammad) adalah salah seorang dari rasul-rasul,” merupakan isi dari sumpah sebelumnya, yakni Allah bersumpah dengan Al Qur’an, bahwa Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam termasuk para rasul. Oleh karena itu, yang Beliau bawa sama dengan yang dibawa para rasul sebelumnya seperti dalam masalah-masalah ushul/pokok. Di samping itu, barang siapa yang memperhatikan keadaan para rasul dan sifat mereka, maka dia akan mengetahui bahwa Beliau termasuk rasul pilihan karena sifat-sifat sempurna yang Beliau miliki dan akhlak utama. Hal ini tidaklah samar, karena adanya hubungan yang kuat antara yang dipakai untuk bersumpah, yaitu Al Qur’an dan hal yang disumpahkan, yaitu kerasulan Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, sehingga jika seandainya tidak ada dalil dan saksi terhadap kerasulan Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam selain Al Quranul Karim ini, tentu ia sudah cukup sebagai dalil dan saksi terhadap kerasulan Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, bahkan Al Qur’anul Karim merupakan dalil terkuat yang menunjukkan kerasulan Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam.
[3] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan sifat yang paling besar bagi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang menunjukkan kerasulan Beliau, yaitu bahwa Beliau berada di atas jalan yang lurus, yang dapat menyampaikan kepada Allah dan kepada surga-Nya. Jalan yang lurus tersebut mencakup ilmu (pengetahuan terhadap yang hak) dan amal, di mana amal tersebut adalah amal yang saleh; yang memperbaiki hati dan badan, dunia dan akhirat. Termasuk ke dalam amal saleh adalah akhlak yang utama yang membersihkan jiwa dan menyucikan hati serta mengembangkan pahala. Jalan yang lurus merupakan sifat bagi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan sifat bagi agama yang Beliau bawa. Maka perhatikanlah keagungan Al Qur’an ini, di mana Allah Subhaanahu wa Ta'aala menggabung antara bersumpah dengan sesuatu yang paling mulia dipakai bersumpah dan hal agung yang disumpahkan (yaitu kerasulan Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam). Memang berita Allah saja yang menunjukkan kerasulan Beliau sudah cukup, akan tetapi Dia menegakkan dalil-dalil yang jelas dan bukti-bukti yang nyata di sini untuk menunjukkan kebenaran yang disumpahkan itu serta mengisyaratkan kepada kita untuk mengikuti jalannya.
[4] Jalan yang lurus itu diturunkan Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang ke dalam kitab-Nya dan diturunkan-Nya sebagai jalan bagi hamba-hamba-Nya. Jalan yang lurus itu dapat menyampaikan mereka kepada-Nya dan kepada surga-Nya. Maka dengan keperkasaan-Nya, Dia menjaga jalan itu dari perubahan dan dengan jalan itu, Dia merahmati hamba-hamba-Nya dengan rahmat yang mengena kepada mereka sehingga dapat menyampaikan mereka ke tempat rahmat-Nya (surga). Oleh karena itulah, Dia tutup ayat ini dengan dua nama-Nya yang mulia; Al ‘Aziz dan Ar Rahiim.
[5] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala bersumpah terhadap kerasulan Beliau dan menegakkan dalil terhadapnya, maka Allah menyebutkan tingginya tingkat kebutuhan manusia kepadanya dan sudah sangat mendesak sekali.
[6] Yakni berada di zaman fatrah (terputus pengiriman rasul).
[7] Dari iman dan petunjuk atau dari tauhid. Mereka ini adalah orang-orang Arab yang ummiy (buta huruf), mereka sebelumnya selalu kosong dari kitab dan rasul, kebodohan dan kesesatan telah merata menimpa mereka, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengutus kepada mereka seorang rasul dari kalangan mereka yang menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Al Qur’an dan hikmah (As Sunnah), padahal mereka sebelumnya berada dalam kesesatan yang nyata, maka Beliau memberi peringatan kepada orang-orang Arab yang ummi dan orang-orang yang bertemu mereka, serta mengingatkan Ahli Kitab terhadap kitab yang ada pada mereka, maka dengan diutusnya Beliau merupakan nikmat dari Allah kepada bangsa Arab secara khusus dan kepada semua manusia secara umum. Akan tetapi, mereka yang didatangi rasul itu terbagi menjadi dua golongan: (1) Golongan yang menolak apa yang Beliau bawa dan tidak menerima peringatan itu, di mana tentang mereka Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Sungguh, pasti berlaku perkataan (hukuman) terhadap kebanyakan mereka, kerena mereka tidak beriman.” (2) Golongan yang menerima peringatan sebagaimana yang disebutkan pada ayat 11 dalam surah Yaasiin ini.
[8] Yakni berlaku pada mereka qadha’ dan kehendak-Nya, bahwa mereka senantiasa dalam kekafiran dan kemusyrikan, dan dijatuhkan kepada mereka perkataan (hukuman) karena sebelumnya mereka telah disodorkan kebenaran, lalu mereka menolaknya, maka sebagai hukumannya hati mereka dicap.
[9] Menurut Syaikh As Sa’diy, selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan penghalang yang menghalangi masuknya iman ke dalam hati mereka.
[10] Yakni mengangkat kepalanya dan tidak sanggup menundukkannya. Menurut sebagian ahli tafsir, ayat ini merupakan tamtsil (perumpamaan) yang maksudnya adalah bahwa mereka tidak mau tunduk beriman.
[11] Ayat ini juga menurut sebagian ahli tafsir merupakan tamtsil yang menunjukkan tertutupnya jalan bagi mereka untuk beriman.
[12] Yakni bagaimana akan beriman orang yang telah dicap hatinya, di mana ia sudah melihat yang hak sebagai kebatilan dan yang batil sebagai hak.
[13] Yakni peringatan dan nasihatmu hanyalah bermanfaat bagi orang yang mengikuti peringatan, yaitu mereka yang niatnya adalah mengikuti kebenaran.
[14] Maksudnya peringatan yang diberikan oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam hanyalah berguna bagi orang yang mau mengikutinya.
[15] Yakni barang siapa yang memiliki kedua sifat ini, yaitu niat yang baik dalam mencari yang hak (benar) dan rasa takut kepada Allah. Orang yang seperti inilah yang dapat mengambil manfaat dari risalah Beliau dan dapat membersihkan dirinya dengan pengajaran Beliau. Oleh karena itu, berikan kabar gembira kepadanya dengan ampunan dan pahala yang mulia terhadap amal mereka yang saleh dan niatnya yang baik.
[16] Yakni Kami bangkitkan mereka setelah matinya untuk diberikan balasan terjadap amal mereka.
[17] Abu Bakar Al Bazzar berkata: Telah menceritakan kepada kami ‘Abbad bin Ziyad As Saajiy. (Ia berkata): Telah menceritakan kepada kami ‘Utsman bin Umar. (Ia berkata): Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Al Jaririy dari Abu Nadhrah dari Abu Sa’id radhiyallahu 'anhu ia berkata, “Sesungguhnya Bani Salamah mengeluhkan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam jauhnya tempat tinggal mereka dari masjid, maka turunlah ayat, “dan Kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.” Maka akhirnya mereka tetap tinggal di tempat tersebut. Ia (Al Bazzar) juga berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna. (Ia berkata): Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul A’la. (Ia berkata): Telah menceritakan kepada kami Al Jaririy Sa’id bin Ayas dari Abu Nadhrah dari Abu Sa’id radhiyallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang sama seperti itu. Menurut Ibnu Katsir, bahwa di sana terdapat keghariban (keasingan) karena disebutkan turunnya ayat ini, sedangkan surat tersebut semuanya adalah Makkiyyah. Hadits ini para perawinya adalah para perawi hadits shahih kecuali ‘Abbad bin Ziyad, tentang dia terdapat pembicaraan sebagaimana dalam Tahdzibut Tahdzib, akan tetapi hadits ini telah dimutaba’ahkan sebagaimana yang kita lihat. Tirmidzi juga meriwayatkannya di juz 4 hal. 171 dan ia menghasankannya. Hakim di juz 2 hal. 428 juga meriwayatkan dan ia menshahihkannya namun didiamkan oleh Adz Dzahabi dari hadits Abu Sa’id Al Khudriy, akan tetapi di hadits itu dalam riwayat keduanya ada Tharif bin Syihab, sedankan dia adalah dha’if sekali sebagaimana dalam Al Mizan, namun orang tersebut dalam riwayat Hakim adalah Sa’id bin Tharif, mungkin saja sebagian rawi keliru dalam hal ini. Akan tetapi, hadits ini memiliki syahid dalam riwayat Ibnu Jarir rahimahullah dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu, ia berkata, “Rumah orang-orang Anshar berjauhan dari masjid, lalu mereka ingin pindah ke dekat masjid, maka turunlah ayat, “Dan Kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.” Hadits ini melalui jalan Simak dari Ikrimah, sedangkan riwayat Simak dari Ikrimah adalah mudhtharib, akan tetapi ia termasuk ke dalam syahid. Syaikh Muqbil berkata, “Adapun ucapan Ibnu Katsir rahimahullah, bahwa di sana terdapat keghariban karena surat terseut semua (ayat)nya adalah Makkiyyah, maka belum jelas arahnya bagiku. Kalau memang ayat ini turun di Mekah, maka tidaklah menghalangi turunnya dua kali, namun jika tidak pasti turunnya di Mekah, maka bisa saja surat ini Makkiyyah selain ayat itu sebagaimana yang sudah biasa, wallahu a’lam.” (Lihat Ash Shahihul Musnad Min Asbaabin Nuzul hal. 193-194 oleh Syaikh Muqbil).
[18] Dalam Lauh Mahfuzh.
[19] Dalam hidup mereka; perbuatan baik atau buruk untuk diberikan balasan.
[20] Baik atau buruk bekas yang mereka tinggalkan, di mana mereka menjadi sebab ada tidaknya perbuatan itu baik di masa hidup mereka maupun setelah mati mereka, demikian pula amalan yang dilakukan karena ucapan, perbuatan dan keadaan mereka. Oleh karena itu, setiap kebaikan yang dikerjakan oleh seseorang disebabkan pengetahuannya, pengajarannya, dan nasihatnya, atau amar ma’ruf dan nahi mungkarnya atau ilmu yang dia tanamkan ke dalam diri siswa atau ia tulis dalam beberapa kitab yang kemudian dimanfaatkan baik pada masa hidupnya maupun setelah matinya, atau mengerjakan kebaikan, seperti shalat, zakat, sedekah dan berbuat ihsan, lalu diikuti oleh orang lain. Atau ia membangun masjid atau membuat suatu tempat yang kemudian dimanfaatkan oleh manusia, dsb. Maka hal itu termasuk bekas peninggalan yang dicatat pula, sebagaimana peninggalan buruk juga dicatat. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

“Barang siapa mencontohkan dalam Islam contoh yang baik, maka ia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkan setelahnya. Barang siapa yang mencontohkan sunnah yang buruk, maka ia akan menanggung dosanya dan dosa orang yang mengamalkan setelahnya tanpa dikurangi sedikit pun dari dosa-dosa mereka.” (HR. Muslim)
Hal ini menunjukkan pula betapa tingginya kedudukan dakwah kepada Alah; membimbing manusia ke jalan-Nya dengan berbagai sarana dan jalan yang dapat mencapai kepadanya, dan menunjukkan rendahnya kediudukan orang yang mengajak kepada keburukan atau menjadi imam dalam hal ini, dan bahwa ia adalah makhluk paling hina, paling besar kejahatan dan dosanya.
[21] Baik amal, niat dan selainnya.