Sabtu, 01 Juni 2013

Tafsir Yasin Muqoddimah

Assalaamu'alaikum Wr. Wb.

Segala puji bagi Allah, kami memujiNya dan kami memohon pertolonganNya dan kami mempohon ampunanNya. Dan kami memohon perlindungan kepada Allah dari segala kejelekan sikap dan ucapan kami.


MUQODDIMAH
Dengan berharap barakah dari Allah, maghfirah sertaridlo-Nya, kami mulai tulisan sederhana dalam upaya mengungkap tafsir Surat Yasin yang Agung ini dengan kalimah (Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang ) Sebab Rasulullah saw bersabda dalam sebuah Hadits :
“Tiap urusan yang tidak dimulai dengan di dalamnya dengan Bismillahirrahmanirrahim, maka terputus barakah-Nya”
Dalam Hadits lain, Rasulullah saw bersabda : “Tiap urusan yang mengandung kebaikan yang tidka dimulai di dalamnyadengan Bismillahirrahmanirrahim, maka terputuslah barakah-Nya”.
Surat Yasiin termasuk golongan Surat Makkiyyah yaitu surat yang turun diMekkah saat Nabi Muhammad saw belum berhijrah ke Madinah. Diturunkansesudah surat Al-Jin , terdiri atas 83 ayat.  Ditempatkan dalam Mushaf pada Juz ke-22 untuk ayat 1-21 dan juz 23 mulai ayat 22-83, dengan nomor surat adalah 36 sesudah surat Faathir. Surat Yasin barangkali adalah surat yang paling terkenal bagi orang awam di Indonesia, diluar surat-surat pendek yang terdapat dalam Juz ‘Amma. Sehingga banyak orang yang tidak dapat membaca Al-Qur’an sekalipun, ia dapat menghafal diluar kepala Surat Yasin, terlepas dari benar dan salahnya lafal yang diucapkannya ditinjau dari qaidah Ilmu Tajwid. Mengapa demikian ? Sebuah fenomena yang nyata dan hidup di masyarakat kita di Indonesia, baik di kota ataupun di desa, meski Rasulullah saw tidak pernah mencontohkannya secara langsung, adalah adanya Majlis Pembacaan Surat Yasin. Khususnya pada setiap malam jum’at, tatkala ada kematian, pada permulaan acarasebuah Majlis Ta’lim, pada malam Nisfu Sya’ban, dan lain sebagainya. Semuanya inimerupakan media yang sangat berperan yang mendorong ummat untuk mau membaca bahkan menghafalkannya.Sehingga apa yang diinginkan Rasulullah saw dalam HR. Al-Bazzar dari‘Ikrimah dari Ibnu Abbas ra, bahwa Rasulullah saw bersabda :
“Sungguh aku sangat ingin bahwasanya ia (Surat Yasin) ini berada dalam hati setiap manusia dari ummatku” ,menjadi sebuah kenyataan di Indonesia, sebuah negeri dengan mayoritas penduduk muslimnya terbesar di dunia ini.Tradisi yang tumbuh subur dan dikembangkan sejak dahulu oleh para Ulamadi Indonesia ini, meski oleh sebagian orang dihukumi “Bid’ah” , sebenarnya memilki pijakan dalil yang kuat. Para Ulama di Indonesia yang sebagian besar  bermadzhabSyafi’i, menyandarkan amaliyyahnya ini kepada sebuah Qaidah Fiqh, yang terkenaldalam Madzhab Syafi’i yang mengatakan :
“Asal pokok dari segala sesuatu adalah boleh atau mubah sehingga ada dalil yang menunjukkan keharamannya”. Qaidah ini dikutip oleh para Ulama diantaranya dari Kitab karya Imam As-Suyuthiyang berjudul“ Al-Asybah wan Nadzair” , dan yang diakui pulakebenarannya oleh  Prof DR. Yusuf Qardhawi dalam“ Al-Halalu wal Haramu fil  Islami” karena memiliki sumber dalil yang kuat dari berbagai ayat Al-Qur’an danHadits Rasul. Diantaranya menurut DR. Yusuf Qardhawi adalahQS. 2 Al-Baqarah :29, QS. 45 Al-Jatsiyah : 13 dan QS. 31 Luqman : 20.  Qaidah ini berbeda dengan yang dikembangkan oleh  Abu Hanifah pendiri Madzhab Hanafi yang mengatakan bahwa : “Pokok dari segala sesuatu itu adalah dilarang (Haram) sehingga ada dalil yang menunjukkan kebolehannya”. Itulahsebabnya di masyarakat kita ada sebagian orang yang tidak menyukai adanyaaktifitas seperti Majlis Pembacaan Surat YasinTetapi ikhtilaful ‘Ulama adalah rahmat. Kearifan kita untuk bersikap tasammuh (toleran) dan mengakui adanya pluralitas pendapat, akan melahirkanketentraman dalam beragama. “ Klaim” yang terlalu tergesa-gesa untuk menghukumiamaliyyah orang lain sebagai sesat hendaknya mulai dijauhkan dari pemikiran kita. Sebab berpotensi untuk memicu  tafaruq (perpecahan) diantara ummat Islam.Sehingga cita-cita kita untuk menjalin Ukhuwah Islamiyyah (Persatuan UmmatIslam) demi ‘Izzul Islam wal Muslimin” (Kemuliaan Islam dan Kaum Muslimin)hanyalah sebuah khayalan belaka.Kedudukan Surat Yasin sebagai “Qalbu al-Qur’an”, disamping fadhilah laindiantaranya untuk pengampunan dosa merupakan motifator terbesar bagi ummatuntuk memperbanyak membacanya. Hanya amat disayangkan bahwa sedikit sekali,khususnya di masyarakat awam yang jauh dari dunia santri, yang mengetahuisekedar tarjamahnya apalagi untuk kandungan makna dan tafsirnya secara mendalam.Sementara Tafsir berbahasa Indonesia yang secara khusus mengkaji suratYasin pun amat sedikit. Kebanyakan ia merupakan satu kesatuan dengan tafsir suratlainnya. Risalah sederhana ini dimaksudkan untuk sedikit mengisi kekosongan dalamaspek yang terakhir ini. Sehingga ummat Islam diharapkan tidak hanya sekedar “mengambil barakah” dengan membacanya saja. Tetapi Yasin sebagai bagianintegral dari Al-Qur’an, hendaknya diposisikan sebagai “Way of Life”. Sehinggamengetahui tafsirnya adalah sebuah kemestian. Dan barakah yang akan didapattentunya lebih banyak lagi. Tiga Kitab Besar yang mu’tabarah dalam bidang Tafsir, yang lebih dikenalsebagai Tafsir Qurthubi, Jalalain dan Ibnu Katsir , adalah rujukan utama kami dalammenyusun buku ini. Kitab Lubabun Nuqul Fi Asbabain Nuzul, karya Imam As-Suyuthii, juga kami pergunakan. Kemudian untuk memperluas kajian, kamimenggunakan berbagai literature yang berkaitan dengan topik bahasan yang ada. Adasekitar  25 (dua puluh lima) topik dalam buku ini yang kami simpulkan dari 83 ayat  yang terdapat dalam surat Yasin ini.Kemudian kami tambahkan pula di dalamnya topik tentang fadhilah surat yasin dan hikmah yasin sebagai qalbul qur’an. Mengapa hal ini kami anggap penting, adalah sebagai targhib. Sehingga orang akan makin terdorong untuk terusmembacanya, mengkaji dan mengamalkan isi dan andungannya.Menafsirkan ayat dengan ayat Al-Qur’an lain atau dengan berbagai Hadits danriwayat adalah ciri tulisan ini.  Pendekatan sains sebagai alat bantu dalam memahamiayat yang berhubungan dengan kekuasaan Allah di semesta alam, juga kami gunakan.Semoga ada manfaatnya. Amien.