Assalaamu'alaikum Wr. Wb.
Segala puji bagi Allah, kami memujiNya dan kami memohon pertolonganNya dan kami mempohon ampunanNya. Dan kami memohon perlindungan kepada Allah dari segala kejelekan sikap dan ucapan kami.
MUQODDIMAH
Dengan berharap barakah
dari Allah, maghfirah sertaridlo-Nya, kami mulai tulisan sederhana dalam upaya
mengungkap tafsir Surat Yasin yang Agung ini dengan kalimah (Dengan Nama
Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang ) Sebab Rasulullah saw bersabda
dalam sebuah Hadits :
“Tiap urusan
yang tidak dimulai dengan di dalamnya dengan Bismillahirrahmanirrahim,
maka terputus barakah-Nya”
Dalam Hadits
lain, Rasulullah saw bersabda : “Tiap urusan yang mengandung kebaikan yang
tidka dimulai di dalamnyadengan Bismillahirrahmanirrahim, maka terputuslah
barakah-Nya”.
Surat Yasiin
termasuk golongan Surat Makkiyyah yaitu surat yang turun diMekkah saat Nabi
Muhammad saw belum berhijrah ke Madinah. Diturunkansesudah surat Al-Jin ,
terdiri atas 83 ayat. Ditempatkan dalam
Mushaf pada Juz ke-22 untuk ayat 1-21 dan juz 23 mulai ayat 22-83, dengan nomor
surat adalah 36 sesudah surat Faathir. Surat Yasin barangkali adalah surat yang
paling terkenal bagi orang awam di Indonesia, diluar surat-surat pendek yang
terdapat dalam Juz ‘Amma. Sehingga banyak orang yang tidak dapat membaca
Al-Qur’an sekalipun, ia dapat menghafal diluar kepala Surat Yasin, terlepas
dari benar dan salahnya lafal yang diucapkannya ditinjau dari qaidah Ilmu
Tajwid. Mengapa demikian ? Sebuah fenomena yang nyata dan hidup di masyarakat kita
di Indonesia, baik di kota ataupun di desa, meski Rasulullah saw tidak pernah mencontohkannya
secara langsung, adalah adanya Majlis Pembacaan Surat Yasin. Khususnya pada
setiap malam jum’at, tatkala ada kematian, pada permulaan acarasebuah Majlis
Ta’lim, pada malam Nisfu Sya’ban, dan lain sebagainya. Semuanya inimerupakan
media yang sangat berperan yang mendorong ummat untuk mau membaca bahkan
menghafalkannya.Sehingga apa yang diinginkan Rasulullah saw dalam HR. Al-Bazzar
dari‘Ikrimah dari Ibnu Abbas ra, bahwa Rasulullah saw bersabda :
“Sungguh
aku sangat ingin bahwasanya ia (Surat Yasin) ini berada dalam hati setiap manusia dari ummatku” ,menjadi sebuah kenyataan di Indonesia, sebuah negeri dengan
mayoritas penduduk muslimnya
terbesar di dunia ini.Tradisi yang tumbuh
subur dan dikembangkan sejak dahulu oleh para Ulamadi Indonesia ini, meski oleh sebagian orang dihukumi
“Bid’ah” , sebenarnya memilki pijakan
dalil yang kuat. Para Ulama di Indonesia yang sebagian besar bermadzhabSyafi’i,
menyandarkan amaliyyahnya ini kepada sebuah Qaidah Fiqh, yang
terkenaldalam Madzhab Syafi’i yang
mengatakan :
“Asal pokok dari segala sesuatu adalah boleh atau
mubah sehingga ada dalil yang menunjukkan
keharamannya”. Qaidah ini dikutip oleh para Ulama diantaranya dari Kitab
karya Imam As-Suyuthiyang berjudul“ Al-Asybah
wan Nadzair” , dan yang diakui pulakebenarannya oleh Prof DR. Yusuf
Qardhawi dalam“ Al-Halalu wal Haramu fil Islami” karena
memiliki sumber dalil yang kuat
dari berbagai ayat Al-Qur’an danHadits Rasul. Diantaranya menurut DR.
Yusuf Qardhawi adalahQS. 2 Al-Baqarah :29, QS. 45 Al-Jatsiyah : 13 dan QS. 31 Luqman
: 20. Qaidah ini berbeda dengan
yang dikembangkan oleh Abu Hanifah pendiri Madzhab Hanafi
yang mengatakan bahwa : “Pokok dari segala sesuatu itu adalah dilarang (Haram) sehingga ada dalil yang
menunjukkan kebolehannya”. Itulahsebabnya
di masyarakat kita ada sebagian orang yang tidak menyukai adanyaaktifitas seperti Majlis Pembacaan
Surat YasinTetapi ikhtilaful ‘Ulama adalah rahmat. Kearifan kita untuk
bersikap tasammuh (toleran) dan mengakui adanya pluralitas pendapat,
akan melahirkanketentraman dalam
beragama. “ Klaim” yang terlalu tergesa-gesa untuk menghukumiamaliyyah orang lain sebagai sesat hendaknya mulai
dijauhkan dari pemikiran kita. Sebab
berpotensi untuk memicu tafaruq (perpecahan) diantara ummat Islam.Sehingga cita-cita kita untuk menjalin Ukhuwah
Islamiyyah (Persatuan UmmatIslam)
demi ‘Izzul Islam wal Muslimin” (Kemuliaan Islam dan Kaum
Muslimin)hanyalah sebuah khayalan belaka.Kedudukan Surat Yasin sebagai “Qalbu al-Qur’an”, disamping
fadhilah laindiantaranya untuk pengampunan
dosa merupakan motifator terbesar bagi ummatuntuk memperbanyak membacanya. Hanya amat disayangkan
bahwa sedikit sekali,khususnya di
masyarakat awam yang jauh dari dunia santri, yang mengetahuisekedar tarjamahnya apalagi untuk kandungan makna dan
tafsirnya secara mendalam.Sementara Tafsir
berbahasa Indonesia yang secara khusus mengkaji
suratYasin pun amat sedikit. Kebanyakan
ia merupakan satu kesatuan dengan tafsir suratlainnya. Risalah sederhana ini dimaksudkan untuk sedikit mengisi
kekosongan dalamaspek yang terakhir ini.
Sehingga ummat Islam diharapkan tidak hanya sekedar “mengambil
barakah” dengan membacanya saja. Tetapi Yasin sebagai bagianintegral dari Al-Qur’an, hendaknya diposisikan sebagai
“Way of Life”. Sehinggamengetahui
tafsirnya adalah sebuah kemestian. Dan barakah yang akan didapattentunya lebih banyak lagi. Tiga Kitab Besar
yang mu’tabarah dalam bidang Tafsir, yang lebih dikenalsebagai Tafsir
Qurthubi, Jalalain dan Ibnu Katsir , adalah rujukan utama kami
dalammenyusun buku ini. Kitab Lubabun Nuqul Fi Asbabain Nuzul, karya Imam As-Suyuthii,
juga kami pergunakan. Kemudian untuk memperluas kajian, kamimenggunakan berbagai literature yang berkaitan dengan
topik bahasan yang ada. Adasekitar 25 (dua puluh lima) topik dalam buku ini yang kami simpulkan dari 83 ayat yang
terdapat dalam surat Yasin ini.Kemudian
kami tambahkan pula di dalamnya topik tentang fadhilah
surat yasin dan hikmah yasin sebagai qalbul
qur’an. Mengapa hal ini kami anggap penting, adalah sebagai targhib. Sehingga orang akan makin
terdorong untuk terusmembacanya,
mengkaji dan mengamalkan isi dan andungannya.Menafsirkan ayat dengan
ayat Al-Qur’an lain atau dengan berbagai Hadits danriwayat adalah ciri tulisan ini. Pendekatan sains sebagai
alat bantu dalam memahamiayat yang
berhubungan dengan kekuasaan Allah di semesta alam, juga kami gunakan.Semoga ada manfaatnya. Amien.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar