Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Ayat
1-12: Pernyataan dari Allah Subhaanahu wa Ta'aala bahwa Muhammad
shallallahu 'alaihi wa sallam itu benar-benar seorang rasul, tugas
Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam, peringatan hanya bermanfaat bagi
orang yang takut kepada Allah, sikap kaum musyrik terhadap Beliau
shallallahu 'alaihi wa sallam dan pertolongan Allah kepada Beliau
shallallahu 'alaihi wa sallam.
- See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/03/tafsir-yasin-ayat-1-12.html#sthash.rjRsidEG.dpuf
Ayat 1-12:
Pernyataan dari Allah Subhaanahu wa Ta'aala bahwa Muhammad shallallahu 'alaihi
wa sallam itu benar-benar seorang rasul, tugas Beliau shallallahu 'alaihi wa
sallam, peringatan hanya bermanfaat bagi orang yang takut kepada Allah, sikap
kaum musyrik terhadap Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam dan pertolongan
Allah kepada Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam.
1. Yaa siin.
2. [1]Demi
Al Quran yang penuh hikmah,
3. [2]Sungguh,
engkau (Muhammad) adalah salah seorang dari rasul-rasul,
4. [3](yang
berada) di atas jalan yang lurus,
5. [4]
(sebagai wahyu) yang diturunkan oleh (Allah) Yang Mahaperkasa lagi Maha
Penyayang,
6. [5]Agar
engkau memberi peringatan kepada suatu kaum yang nenek moyangnya belum pernah
diberi peringatan[6],
karena itu mereka lalai[7].
7. [8]Sungguh,
pasti berlaku perkataan (hukuman) terhadap kebanyakan mereka, kerena mereka
tidak beriman.
8. [9]Sungguh,
Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke
dagu, karena itu mereka tertengadah[10].
9. Dan Kami
jadikan di hadapan mereka sekat (dinding) dan di belakang mereka juga sekat,
dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat[11].
10. Dan sama
saja bagi mereka, apakah engkau memberi peringatan kepada mereka atau engkau
tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman juga[12].
11.
Sesungguhnya engkau hanya memberi peringatan[13]
kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan[14]
dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pengasih walaupun mereka tidak
melihat-Nya. [15]Maka
berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia (surga).
12. Sungguh,
Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati[16],
[17]dan
Kamilah yang mencatat[18]
apa yang telah mereka kerjakan[19]
dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan[20].
Dan segala sesuatu[21]
Kami kumpulkan dalam kitab yang jelas (Lauh Mahfuzh).
[1] Ini adalah sumpah Allah Subhaanahu
wa Ta'aala dengan Al Qur’anul Karim, di mana sifatnya adalah hikmah (bijaksana)
dan menempatkan sesuatu pada tempatnya, perintahnya tepat dan larangannya tepat,
memberikan balasan pada tempatnya, hukum-hukum syar’i dan jaza’i(balasan)nya
juga penuh dengan hikmah. Di antara kebijaksanaan Al Qur’an adalah menggabung
antara menyebutkan hukum dengan hikmahnya, mengingatkan akal terhadap hal-hal
yang sesuai dan sifat-sifat yang menghendaki untuk dihukumi.
[2] Ayat ini sebagai bantahan terhadap
orang-orang kafir yang mengatakan kepada Beliau, “Engkau bukan seorang rasul.”
Firman-Nya, “Sungguh, engkau (Muhammad) adalah salah seorang dari
rasul-rasul,” merupakan isi dari sumpah sebelumnya, yakni Allah bersumpah
dengan Al Qur’an, bahwa Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam termasuk para rasul.
Oleh karena itu, yang Beliau bawa sama dengan yang dibawa para rasul sebelumnya
seperti dalam masalah-masalah ushul/pokok. Di samping itu, barang siapa yang
memperhatikan keadaan para rasul dan sifat mereka, maka dia akan mengetahui
bahwa Beliau termasuk rasul pilihan karena sifat-sifat sempurna yang Beliau
miliki dan akhlak utama. Hal ini tidaklah samar, karena adanya hubungan yang
kuat antara yang dipakai untuk bersumpah, yaitu Al Qur’an dan hal yang
disumpahkan, yaitu kerasulan Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, sehingga
jika seandainya tidak ada dalil dan saksi terhadap kerasulan Beliau shallallahu
'alaihi wa sallam selain Al Quranul Karim ini, tentu ia sudah cukup sebagai
dalil dan saksi terhadap kerasulan Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam,
bahkan Al Qur’anul Karim merupakan dalil terkuat yang menunjukkan kerasulan
Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam.
[3] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa
Ta'aala memberitahukan sifat yang paling besar bagi Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam yang menunjukkan kerasulan Beliau, yaitu bahwa Beliau berada
di atas jalan yang lurus, yang dapat menyampaikan kepada Allah dan kepada
surga-Nya. Jalan yang lurus tersebut mencakup ilmu (pengetahuan terhadap yang
hak) dan amal, di mana amal tersebut adalah amal yang saleh; yang memperbaiki
hati dan badan, dunia dan akhirat. Termasuk ke dalam amal saleh adalah akhlak
yang utama yang membersihkan jiwa dan menyucikan hati serta mengembangkan
pahala. Jalan yang lurus merupakan sifat bagi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam dan sifat bagi agama yang Beliau bawa. Maka perhatikanlah keagungan Al
Qur’an ini, di mana Allah Subhaanahu wa Ta'aala menggabung antara bersumpah
dengan sesuatu yang paling mulia dipakai bersumpah dan hal agung yang
disumpahkan (yaitu kerasulan Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam). Memang
berita Allah saja yang menunjukkan kerasulan Beliau sudah cukup, akan tetapi
Dia menegakkan dalil-dalil yang jelas dan bukti-bukti yang nyata di sini untuk
menunjukkan kebenaran yang disumpahkan itu serta mengisyaratkan kepada kita
untuk mengikuti jalannya.
[4] Jalan yang lurus itu diturunkan
Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang ke dalam kitab-Nya dan
diturunkan-Nya sebagai jalan bagi hamba-hamba-Nya. Jalan yang lurus itu dapat
menyampaikan mereka kepada-Nya dan kepada surga-Nya. Maka dengan
keperkasaan-Nya, Dia menjaga jalan itu dari perubahan dan dengan jalan itu, Dia
merahmati hamba-hamba-Nya dengan rahmat yang mengena kepada mereka sehingga
dapat menyampaikan mereka ke tempat rahmat-Nya (surga). Oleh karena itulah, Dia
tutup ayat ini dengan dua nama-Nya yang mulia; Al ‘Aziz dan Ar Rahiim.
[5] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala
bersumpah terhadap kerasulan Beliau dan menegakkan dalil terhadapnya, maka
Allah menyebutkan tingginya tingkat kebutuhan manusia kepadanya dan sudah
sangat mendesak sekali.
[7] Dari iman dan petunjuk atau dari
tauhid. Mereka ini adalah orang-orang Arab yang ummiy (buta huruf), mereka
sebelumnya selalu kosong dari kitab dan rasul, kebodohan dan kesesatan telah
merata menimpa mereka, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengutus kepada mereka
seorang rasul dari kalangan mereka yang menyucikan mereka dan mengajarkan
kepada mereka Al Qur’an dan hikmah (As Sunnah), padahal mereka sebelumnya
berada dalam kesesatan yang nyata, maka Beliau memberi peringatan kepada
orang-orang Arab yang ummi dan orang-orang yang bertemu mereka, serta
mengingatkan Ahli Kitab terhadap kitab yang ada pada mereka, maka dengan
diutusnya Beliau merupakan nikmat dari Allah kepada bangsa Arab secara khusus
dan kepada semua manusia secara umum. Akan tetapi, mereka yang didatangi rasul
itu terbagi menjadi dua golongan: (1) Golongan yang menolak apa yang Beliau
bawa dan tidak menerima peringatan itu, di mana tentang mereka Allah Subhaanahu
wa Ta'aala berfirman, “Sungguh, pasti berlaku perkataan (hukuman) terhadap
kebanyakan mereka, kerena mereka tidak beriman.” (2) Golongan yang menerima
peringatan sebagaimana yang disebutkan pada ayat 11 dalam surah Yaasiin ini.
[8] Yakni berlaku pada mereka qadha’
dan kehendak-Nya, bahwa mereka senantiasa dalam kekafiran dan kemusyrikan, dan
dijatuhkan kepada mereka perkataan (hukuman) karena sebelumnya mereka telah
disodorkan kebenaran, lalu mereka menolaknya, maka sebagai hukumannya hati
mereka dicap.
[9] Menurut Syaikh As Sa’diy,
selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan penghalang yang menghalangi
masuknya iman ke dalam hati mereka.
[10] Yakni mengangkat kepalanya dan tidak sanggup
menundukkannya. Menurut sebagian ahli tafsir, ayat ini merupakan tamtsil
(perumpamaan) yang maksudnya adalah bahwa mereka tidak mau tunduk beriman.
[11] Ayat ini juga menurut sebagian ahli tafsir merupakan
tamtsil yang menunjukkan tertutupnya jalan bagi mereka untuk beriman.
[12] Yakni bagaimana akan beriman orang yang telah dicap
hatinya, di mana ia sudah melihat yang hak sebagai kebatilan dan yang batil
sebagai hak.
[13] Yakni peringatan dan nasihatmu hanyalah bermanfaat
bagi orang yang mengikuti peringatan, yaitu mereka yang niatnya adalah
mengikuti kebenaran.
[14] Maksudnya peringatan yang diberikan oleh Nabi
Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam hanyalah berguna bagi orang yang mau
mengikutinya.
[15] Yakni barang siapa yang memiliki kedua sifat ini,
yaitu niat yang baik dalam mencari yang hak (benar) dan rasa takut kepada
Allah. Orang yang seperti inilah yang dapat mengambil manfaat dari risalah
Beliau dan dapat membersihkan dirinya dengan pengajaran Beliau. Oleh karena
itu, berikan kabar gembira kepadanya dengan ampunan dan pahala yang mulia
terhadap amal mereka yang saleh dan niatnya yang baik.
[17] Abu Bakar Al Bazzar berkata: Telah menceritakan
kepada kami ‘Abbad bin Ziyad As Saajiy. (Ia berkata): Telah menceritakan kepada
kami ‘Utsman bin Umar. (Ia berkata): Telah menceritakan kepada kami Syu’bah
dari Al Jaririy dari Abu Nadhrah dari Abu Sa’id radhiyallahu 'anhu ia berkata,
“Sesungguhnya Bani Salamah mengeluhkan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam jauhnya tempat tinggal mereka dari masjid, maka turunlah ayat, “dan
Kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang
mereka tinggalkan.” Maka akhirnya mereka tetap tinggal di tempat tersebut.
Ia (Al Bazzar) juga berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al
Mutsanna. (Ia berkata): Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul A’la. (Ia
berkata): Telah menceritakan kepada kami Al Jaririy Sa’id bin Ayas dari Abu
Nadhrah dari Abu Sa’id radhiyallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam yang sama seperti itu. Menurut Ibnu Katsir, bahwa di sana terdapat
keghariban (keasingan) karena disebutkan turunnya ayat ini, sedangkan surat
tersebut semuanya adalah Makkiyyah. Hadits ini para perawinya adalah para
perawi hadits shahih kecuali ‘Abbad bin Ziyad, tentang dia terdapat pembicaraan
sebagaimana dalam Tahdzibut Tahdzib, akan tetapi hadits ini telah
dimutaba’ahkan sebagaimana yang kita lihat. Tirmidzi juga meriwayatkannya di
juz 4 hal. 171 dan ia menghasankannya. Hakim di juz 2 hal. 428 juga
meriwayatkan dan ia menshahihkannya namun didiamkan oleh Adz Dzahabi dari
hadits Abu Sa’id Al Khudriy, akan tetapi di hadits itu dalam riwayat keduanya
ada Tharif bin Syihab, sedankan dia adalah dha’if sekali sebagaimana dalam Al
Mizan, namun orang tersebut dalam riwayat Hakim adalah Sa’id bin Tharif,
mungkin saja sebagian rawi keliru dalam hal ini. Akan tetapi, hadits ini
memiliki syahid dalam riwayat Ibnu Jarir rahimahullah dari Ibnu Abbas radhiyallahu
'anhu, ia berkata, “Rumah orang-orang Anshar berjauhan dari masjid, lalu mereka
ingin pindah ke dekat masjid, maka turunlah ayat, “Dan Kamilah yang mencatat
apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.” Hadits
ini melalui jalan Simak dari Ikrimah, sedangkan riwayat Simak dari Ikrimah
adalah mudhtharib, akan tetapi ia termasuk ke dalam syahid. Syaikh Muqbil
berkata, “Adapun ucapan Ibnu Katsir rahimahullah, bahwa di sana terdapat
keghariban karena surat terseut semua (ayat)nya adalah Makkiyyah, maka belum
jelas arahnya bagiku. Kalau memang ayat ini turun di Mekah, maka tidaklah
menghalangi turunnya dua kali, namun jika tidak pasti turunnya di Mekah, maka
bisa saja surat ini Makkiyyah selain ayat itu sebagaimana yang sudah biasa, wallahu
a’lam.” (Lihat Ash Shahihul Musnad Min Asbaabin Nuzul hal. 193-194 oleh Syaikh
Muqbil).
[20] Baik atau buruk bekas yang mereka tinggalkan, di mana
mereka menjadi sebab ada tidaknya perbuatan itu baik di masa hidup mereka
maupun setelah mati mereka, demikian pula amalan yang dilakukan karena ucapan,
perbuatan dan keadaan mereka. Oleh karena itu, setiap kebaikan yang dikerjakan
oleh seseorang disebabkan pengetahuannya, pengajarannya, dan nasihatnya, atau
amar ma’ruf dan nahi mungkarnya atau ilmu yang dia tanamkan ke dalam diri siswa
atau ia tulis dalam beberapa kitab yang kemudian dimanfaatkan baik pada masa
hidupnya maupun setelah matinya, atau mengerjakan kebaikan, seperti shalat,
zakat, sedekah dan berbuat ihsan, lalu diikuti oleh orang lain. Atau ia membangun
masjid atau membuat suatu tempat yang kemudian dimanfaatkan oleh manusia, dsb.
Maka hal itu termasuk bekas peninggalan yang dicatat pula, sebagaimana
peninggalan buruk juga dicatat. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi
wa sallam bersabda:
“Barang
siapa mencontohkan dalam Islam contoh yang baik, maka ia akan mendapatkan
pahalanya dan pahala orang yang mengamalkan setelahnya. Barang siapa yang
mencontohkan sunnah yang buruk, maka ia akan menanggung dosanya dan dosa orang
yang mengamalkan setelahnya tanpa dikurangi sedikit pun dari dosa-dosa mereka.”
(HR. Muslim)
Hal ini
menunjukkan pula betapa tingginya kedudukan dakwah kepada Alah; membimbing
manusia ke jalan-Nya dengan berbagai sarana dan jalan yang dapat mencapai
kepadanya, dan menunjukkan rendahnya kediudukan orang yang mengajak kepada
keburukan atau menjadi imam dalam hal ini, dan bahwa ia adalah makhluk paling
hina, paling besar kejahatan dan dosanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar